Thursday, November 6, 2014

Tiwul Nal Nil Nul



Kata anak muda sekarang, banyak berkeluh kesah, meratapi kekurangan, tidak akan membuat kita Move On... Sebaliknya, saat kita mengalami kesulitan, namun kita mau menggunakan segenap energy posistif, secara kreatif, berupaya menemukan dan mengembangkan potensi, niscaya, semesta akan mendukung kita keluar dari kesulitan itu..

Di Sekolah Pagesangan(SP), kami belajar untuk mengenali potensi diri, lingkungan sekitar dan desa. Dari proses diskusi dan analisa potensi yang kami lakukan, kami menemukan gaplek dan tiwul sebagai salah satu potensi desa yang bisa kami manfaatkan sebagai media pembelajaran kami, sekaligus sebagai salah satu cara mendanai proses pendidikan anak-anak SP.

Kami bercita-cita menjadi manusia yang berdaya dan merdeka. Menggali potensi daerah sendiri merupakan awal dari proses belajar kami untuk menjadi berdaya. Potensi-potensi yang ada tersebut, kami ingin kembangkan menjadi bentuk usaha. Bagi kami, menjadi wirausaha, adalah proses yang mulia dan bermartabat. Tidak perlu menunggu untuk menjadi tua untuk memulai usaha. Justru ketika memulai usaha dari usia muda kami akan belajar lebih banyak

Di desa-desa di kecamatan Panggang, Pada musim kering begini, tanaman meranggas, tanah kering kerontang, setiap tetes air harus dibeli, jenis pangan yang kami panen juga agak terbatas. Tapi panen singkong melimpah, hampir semua keluarga panen singkong. Saat ini harga singkong sangat murah, sekitar Rp. 750-1000/kg. Supaya singkong lebih tahan lama, dan bisa disimpan sebagai persediaan pangan beberapa bulan kedepan, maka hamper semua keluarga menjemur singkong sampai kering hingga menjadi gaplek.

Singkong kering yang telah menjadi Gaplek bisa tahan sampai berbulan-bulan sebagai persediaan pangan. Hanya sebagian kecil dari gaplek yang dijual. Kalaupun dijual jika benar-benar butuh uang. Karena harga gaplek disini sangat murah, hanya 1.500/kg. Umumnya gaplek diolah menajadi panganan seperti tiwuldan gatot. Bagi masyarakat wintaos Tiwul sendiri menjadi salah satu makan pokok selain beras dan jagung. Masyarakat nyaris tidak pernah menjual produk olahan dari gaplek didusun mereka. Bahkan menjual tepung gaplek belum pernah mereka lakukan.
Sementara disisi lain, di belahan wilayah lain. Ada banyak orang yang membutuhkan singkong, gaplek, tiwul dan olahan gaplek lain, menjadi sumber karbon alternative. Misalnya orang-orang yang menjalani diet gluten maupun diet glukosa, ataupun orang-orang yang membutuhkan gaplek untuk diolah menjadi makanan klangenan. Kami pikir, jika kita bisa menghubungkan tiwul/olahan gaplek ini dengan ‘customer/orang-orang yang membutuhkan di dunia ‘luar’ maka tiwul ini menjadi potensi pendapatan bagi masyarakat petani disini.

Beasiswa tiwul
Kami mendiskusikan, apa yang bisa kita lakukan terhadap gaplek dan tiwul ini. Jika rencana berjualan tiwul berjalan lancar, maka kesulitan keuangan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, bayar sekolah, dan mungkin kebutuhan hidup lainnya bisa diatasi dari hasil jualan tiwul ini. Selama ini, para orangtua, anak-anak sering bercerita tentang kesulitan hidup, mahalnya harga-harga, hasil panen yang tidak mencukupi, dan tingginya biaya sekolah. Jika tiwul ini bisa dikelola dengan baik, kami berencana dan menjadikan tiwul ini sebagai beasiswa bagi anak-anak yang bergabung di komunitas belajar sekolah pagesangan, kami menyebutnya beasiswa tiwul. Bahwa 100% dari hasil usaha tiwul digunakan untuk mendanai dan mendukung proses pendidikan dan pembelajaran bagi anak-anak Sekolah Pagesangan

Awalnya saya dan anak-anak SP mendiskusikan bagaimana proses pembuatan tiwul dan penjualan tiwul dilakukan. Kami membagi tugas menjadi dua kelompok besar, yaitu produksi dan pemasaran. Pada bagian produksi, Kami menyepakati dari mana singkong didapat, dan teknis penjemurannya hingga menjadi gaplek yang benar-benar kering. Proses penjemuran kami bahas bagaimana menjemur dengan mempertimbangkan kebersihan dan hiegenitas. Setelah gaplek kering, kami berkumpul untuk melakukan NUTU (menumbuk) bersama, Nutu gaplek menjadi tepung gaplek. Kami menyeakati hari-hari dilakukannya nutu. Secara bertahap anak-anak juga membicarakan system bagi hasil dari kerja mereka.

Dari sisi marketing, saya dan anak-anak melakukan identifikasi, cara-cara yang bisa kami lakukan untuk memasarkan produk, diantaranya, cara pertama memasarkan langsung yaitu dijual langsung, dimana customer bisa langsung bertemu kami, dan cara kedua adalah dijual melalui internet untuk memperluas jangkauan pasar. Kondisi ini membuat kami harus mengkatagorikan produk. Untuk yang dijual di internet, berarti bisa menjangkau daerah tak terbatas, tapi produk harus awet mengingat butuh waktu bagi ekspedisi untuk menjangkau alamat yang dituju. Sehingga tiwul yang dikirim harus yang awet, tidak boleh basi. sehingga produk yang memunngkinkan dijual via internet adalah tepung gaplek dan tiwul instan. Sedangkan untuk tiwul (matang) hanya bisa dijual di jogja dan sekitarnya. Karena tiwul matang umur pendek, sekitar sehari. Anak-anak mulai memasarkan tiwul matang di sekolah (formal) mereka dan wilayah sekitar jogja. Dan hasilnya lumayan, anak-anak senang, dan semangat. Untuk jualan di internet, karena akses internet yang saya miliki, anak-anak meminta saya untuk membantu mempromosikan dan menjualkannya. Dan saya menyanggupinya, namun saya mengajukan syarat, yaitu peran saya bersifat sebagai pendukung dan supporter saja, membantu menjualkan dan segala keuntungan yang didapat sepenuhnya untuk beasiswa tiwul bagi anak-anak SP.

Dukungan ibu-ibu
Salah satu keunikan dan Keistimewaan di SP adalah adanya proses belajar antara orangtua dan anak-anak. Orangtua dan anak saling belajar,saling dukung dan bekerjasama. Dan ini diterapkan juga dalam kelompok tiwul. Ibu-ibu (mamak-mamak) mereka diorganisir untuk terlibat mendukung ‘beasiswa tiwul’ ini. Ibu-ibu orangtua siswa SP diorganisisr danmereka bersedia terlibat aktif dalam mendukung proses produksi, terutama untuk produksi tiwul instan. Mereka menyepakati beberapa kali dalam seminggu mereka berkumpul dan mengolah gaplek menjadi tepung gaplek dan juga tiwul instan Mengingat beberapa dari mereka sudah sangat berpengalaman membuat tiwul instan (mereka menyebutnya tiwul goge). Kami menyepakati, hasil dari proses pengolahan tiwul oleh ibu-ibu akan digunakan untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka dan kebutuhan sehari-hari. Keberadaan ibu-ibu turut pula menyemangati anak-anak untuk terus melangsungkan kegiatan ini

Proses terus berlanjut, sampai saat ini anak-anak berhasil mengelola 3 produk olahan gaplek yaitu :
1. Tepung gaplek yang kami sebut sebagai Baby Tiwul, merupakan bahan dasar untuk membuat tiwul dan olahan pangan lainnya.
2. Tiwul Instan. Tiwul yang telah diolah secara alami melalui pemasakan dan pengeringan matahari. Sama sekali tidak memakai bahan pengawet. Tiwul isntan awet hingga berbulan-bulan namun sehat untuk disantap.
3. Tiwul Matang. Tiwul matang diproduksi 2 kali dalam seminggu yaitu hari RABO dan SABTU, bagi teman-teman yang berada di Jogja, jika menginginkan dan memesan bisa kami layani di dua hari tersebut. Tersedia dalam kemasan mika dan besek.

Bagi teman-teman yang berminat, bisa memesan, Monggo…silakan mencoba :D. untuk yang order dari luar bogor kami bisa membantu mengirimkan via ekspedisi.
Maturnuwun…terimakasih…salam hangat dari kami

0 comments:

Post a Comment