Menanam dan menumbuhkan kehidupan
Cerita dari kebun ketiga : di halaman rumah Pak YantoPertengahan maret 2015, Kami mendapat pinjaman lahan baru lagi, di depan halaman rumah pak yanto. Kebun ini merupakan kebun ketiga, setelah kebun Delisen (kebun 1) yang saat musim hujan lalu kami Tanami kacang, kedelai, ganyong, garut dan serai dan kebun Kepuket (kebun2) untuk kebun ganyong dan garut.
Sebenarnya, di awal musim kemarau begini, di Kec. Panggang sudah bukan musim tandur, mengingat hujan mulai tak turun, takada air untuk menyirami tanaman. Disini, di Panggang, menanam hanya dilakukan sekali dalam setahun, yaitu saat musim hujan. Awal musim hujan adalah masa paling sibuk, semua orang melakukan tandur, menanam semua jenis tanaman yang biasa ditanam, sehingga saat panen punya stok pangan. Saat musim kemarau, seperti sekarang tak banyak aktivitas di kebun. Lahan-lahan dibiarkan saja, hanya tampak tanaman singkong yang menunggu panen di bulan agustus-september.
Saat musim tandur lalu, pak yanto memenuhi halaman rumahnya dengan tanaman jagung. Usai panen jagung pertengahan maret lalu, pak yanto memperbolehkan kami menggunakan halaman tersebut untuk ditanami. Dan kami semua bersepakat akan mencoba menanam aneka sayuran dan buah di kebun ini.
Lahan ini tanahnya ini kerasss sekali, atos (bahasa jawa). Kami ingin ‘memperlembut’ tanah ini dengan menambah lapisan topsoil-nya dengan menambah masa organic sebanyak-banyaknya. Sejak bulan januari 2015, kami telah mulai persiapan dengan membuat beberapa ton kompos. Kami pinjam lahan mbah ngatemo untuk proses pengomposan. Kami telah berembug bersama, kami perkirakan lahan halaman rumah pak yanto tersebut bisa dibuat maksimal 20 bedeng. Proses pengomposan butuh waktu sekitar 2 bulanan, dan ternyata kompos jadi sekitar awal april 2015. Dari target 2 ton kompos, kami hanya berhasil membuat 1,5 ton kompos.
Bulan april kami mulai mengawali membuat bedengan, kami mencangkuli lahan-lahan yang keras itu, dan membuat beberapa bedengan. Ternyata, hanya cukup 11 bedengan, mengingat banyak pohon pisang, dan kelapa yang telah ada di lahan tersebut, kami tidak akan menebang pohon-pohon yang ada. Kami juga harus menyisakan beberapa bagian lahan untuk akses jalan. Dan 1,5 ton kompos yang kami buat kami urug-kan ke bedengan-bedengan yang kami buat. Ternyata diluar dugaan, mengingat kondisi tanah yang sangat keras, kami membutuhkan jauuuh lebih banyak kompos! Semula kami perkirakan tiap bedengan hanya butuh 2 karung besar kompos ( 1karung beratnya sekitar 100kg), ternyata supaya media tanamnya lebih gembur 1 bedengan butuh sekitar 4-5 karung! Sehingga semua kompos yang kami buat hanya cukup untuk 10 bedeng saja. Tak apa, kami akan buat kompos lagi.
Beberapa saat kami sempet berkecil hati, mengingat tanah yang begitu keras, meski sudah ditambahkan kompos yang sangat banyak. Tapi kami tetep terus bekerja, sambil berdoa dan berharap semoga benih-benih yang kami tanam nanti mau tumbuh dan berkembang baik.
Setelah bedengan mulai siap, kami mulai membenihkan berbagai macam tanaman, sayuran hijau, seperti bayam, kangkung, kacang panjang, koro benguk, koro sayur, kenikir, pokak, markisa dll. Karena keterbatasan air, pembenihan kami lakukan di jogja, dan setelah berkecambah, dan tumbuh sedikit besar, usia 2 minggu, bibit tersebut kami pindahkan ke bedengan.
Air untuk menanam dan menyirami tanaman di musim kering ini menjadi persoalan yang belum bisa kami pecahkan hingga kini. Sebenarnya sudah ada pam masuk desa ini, tapi pam lebih sering mati sama sekali tak mengalirkan air. Untuk Sementara waktu sebagai jalan keluar, supaya tanaman tetep hidu[, kami memutuskan mengambil air dari telaga jurang jero dan mengumpulkan air di dalam tempat penampungan air berupa drum deket kebun. Kami harus banyak menghemat air bahkan untuk menyirami tanaman, mengingat jarak jurang jero ke kebun ini agak jauh sekitar 1 km dengan kondisi jalan berbatu dan naik turun, cukup ngos-ngosan dan berkeringat hanya untuk membawa beberapa liter air menuju kebun.
Alhamdulilahh, segala puji bagi Tuhan, harapan atas tanda-tanda kehidupan itu ada. Sebagian tanaman yang kami tanam perlahan-lahan tumbuh, beberapa ada yang mati dan tak tumbuh, tapi kami terus merawatnya, menyirami dengan air yang telah kami kumpulkan. Kami terus merawatnya dengan penuh cinta. Semoga terus tumbuh. Melihat tanaman yang mulai tumbuh, kami senang sekali. Sepertinya kerjakeras kami terbayar. Kami terus mendampingi mereka untuk terus tumbuh dan berkembang. Semoga nanti mampu menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kami semua…
by: Diah Widuretno

0 comments:
Post a Comment