Sekolah Pagesangan: Sebuah Komunitas Belajar Dusun Wintaos, Desa Girimulya, Panggang, Gunungkidul
Ide dan gagasan awalCerita diawali dari keinginan saya untuk belajar lebih jauh tentang pendidikan yang kontekstual, diilhami oleh konsep pendidikan ala Freiran, dengan pendidikannya yang memerdekakan. Saya memimpikan, ada model pendidikan yang nyambung dengan realitas, dan bisa menjadi ‘solusi’ bagi persoalan yang ada. Khususnya pendidikan yang cocok dan bisa menjadi solusi bagi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di pedesaan dan di daerah terpencil. Pedesaan yang miskin.
Gagasan seideal apapun, akan tetap berupa
gagasan, tidak akan pernah menjadi kenyataan, jika tidak dimulai dengan langkah
nyata. Gagasan dan proses belajar itu mulai diwujudkan setelah saya diminta
oleh beberapa kawan untuk menginisiasi proses belajar bersama anak-anak putus
sekolah di Girimulya, Panggang. Saya menyanggupi ajakan teman tersebut, dengan
catatan segala proses dan kegiatan tersebut menjadi milik bersama para relawan
dan masyarakat, tanpa diformalkan dan tidak menjadi bagian dari projek apapun
serta tetap independent. Semua orang yang terlibat dan tergabung memfasilitasi
kegiatan SSP berstatus Relawan. Di proses awal ada 5-7 relawan yang berhimpun
di SSP. Status relawan yang tidak mengikat, kekuatan bertahan sangat bergantung
dari komintmen yang dimiliki masing-masing individu, hingga mulai tahun ke-3
secara teknis saya bekerja sendiri. Meskipun Relawan Pendiri SSP masih saling
berkomunikasi dan semacam memiliki kekuasaan menentukan kebijakan SSP.
Di awal proses awal pengorganisasian,
selain mulai mengorganisir kelompok belajar, kami melakukan proses identitifikasi
persoalan. Dari identifikasi persoalan,
masalah yang jamak dijumpai di desa-desa di Kecamatan Panggang :
1.
Kemiskinan
2.
Pernikahan dini
3.
Angka putus sekolah relative
tinggi
4.
Urbanisasi tinggi
Dan masalah itu tidak berdiri sendiri, tapi
saling kait mengait. Kemiskinan menyebabkan angka putus sekolah tinggi, juga
mendorong angka pernikahan dini. Orang tua cenderung menikahkan anak-anak
mereka di usia sekitar 15 tahun, terutama anak-anak perempuan, selain karena
budaya, juga untuk meringankan beban perekonomian keluarga. Jika anak-anak
tidak menikah atau bersekolah formal, mereka cenderung untuk pergi bekerja ke
kota, menjadi buruh urban, terutama di kota-kota besar. Jika tidak menjadi
buruh urban sebagian menjadi buruh di perkebunan sawit di Sumatera dan
Kalimantan. Jika tidak sukses mendapat pekerjaan di kota, mereka menjadi kaum
miskin kota. Tidak juga berani pulang ke desa, karena seringkali asset-aset di
desa sudah dijual untuk biaya mereka pergi ke kota atau modal kerja.
2. Desember 2008 s.d Desember 2013 : Sekolah Sumbu Panguripan (SSP)
Proses kegiatan, pengorganisasian, proses
belajar bersama anak-anak dilakukan dalam wadah Sekolah Sumbu Panguripan (SSP).
SSP berjalan mulai Desember 2008 s.d Desember 2013. Bentuk kegiatan belajar yang
dilakukan SSP bersama anak-anak diantaranya :
Penguatan akademis Sekolah
Formal
Imajinasi proses pendidikan selama SSP
masih sangat kental dan dekat dengan Sekolah Formal. Saat menjadi SSP, proses-proses di SSP mendukung
dan mendorong anak-anak untuk tetap Sekolah Formal (SF), dengan pertimbangan,
Sekolah Formal adalah ‘alat’ yang efektif untuk mencegah pernikahan dini,
migrasi dan urbanisasi anak. Pada proses ini ada penguatan SF diwujudkan melalui
:
- Pemberian beasiswa (Gerakan Anak Asuh), agar anak-anak usia dibawah 17 tahun untuk tetap bersekolah formal
- Pemberian dan penguatan pelajaran tambahan (penguatan akademis) seperti matematika, bahasa inggris.
- SSP membuat kurikulum sendiri untuk beberapa tema belajar terkait pelajaran IPS (Ekonomi, sejarah, dan budaya) dan Berhitung/Matematika. Kurikulum versi SSP diharapan menjadi muatan belajar yang lebih kontekstual dengan situasi dan persoalan yang terjadi di desa-desa di Panggang
b.
Belajar Kewirausahaan
Kami percaya, Kewirausahaan menjadi salah
satu cara dan strategi keluar dari kemiskinan. Proses kegiatan belajar diwarnai
dengan meyakini bahwa dengan merintis dan memiliki usaha sendiri menjadi cara
kita keluar dari kemiskinan dan menjadi mandiri. Proses belajar kewirausahaan
dilakukan melalui beberapa tahapan :
- Belajar menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan penguatan kapasitas melalui workshop, lomba memasak dan bazaar
- Merintis usaha. Anak-anak remaja merintis usaha secara langsung, diawali dengan usaha ‘Donat’, Pengumpulan Barang Bekas dan Pasar Murah (Bazaar) barang layak pakai
c.
Pengorganisasian dan penguatan
kelompok berdasarkan/sesuai rentang usia
Proses belajar dilakukan dalam kelompok.
Pembagian kelompok didasari dari rentang usia yang sama. Saling belajar dalam
kelompok dan bekerjasama menjadi bagian dari strategi pembelajaran.
3.
Desember 2013, SSP ‘bubar’
Karena ada beberaapa prinsip dan tidak sejalan
dengan relawan yang lain, saya memutuskan untuk mundur dari SSP. Kemunduran
saya menyebabkan SSP bubar, karena saya adalah relawan terakhir yang masih
bertahan memfasilitasi proses di SSP.
Proses kemunduran saya ini sama sekali
bukan proses yang mudah bagi saya. SSP ibarat bayi yang saya lahirkan dan
besarkan hingga berusia 5 tahun, dan harus dipisahkan dari ibunya. Saya
mencintai segala proses juga komunitas anak ini. Saya dan anak-anak sudah
sangat dekat dan saling menyayangi.
Setelah SSP bubar, ternyata komunitas anak-anak
masih solid berkumpul. Anak-anak mencari dan menghubungi saya, dan meminta
melanjutkan proses bersama walau tanpa SSP. Saya menyanggupi permintaan
anak-anak, dengan catatan, harus dengan format dan bentuk yag baru.
Januari – April 2014 :
Refleksi selama menjadi SSP
Bubarnya SSP menjadi titik balik bagi
proses selanjutnya. Mencari bentuk dan wajah baru pendidikan, diawali dengan
proses evaluasi dan refleksi atas segala proses selama menjadi SSP, guna mengidentifikasi
semua pelajaran yang didapat selama menjadi SSP. Refleksi dan evaluasi ini
menjadi bahan menuju bentuk dan model pendidikan yang akan diterapkan di Sekolah Pagesangan. Dari proses refleksi :
-
Semakin disadari pentingnya
model pendidikan yang dekat dengan Realitas. Pendidikan yang berakar budaya
setempat. Kami semakin menyadari selama di SSP belum optimal dalam membangun kedekatan
dengan akar budaya.
-
Mulai mengidentifikasi potensi
desa dan menghubungkannya dengan upaya mengatasi persoalan.
-
Proses belajar kewirausaahaan
bisa menjadi solusi dari permasalahan kemiskinan
-
Muatan Pelajaran Kewirausahaan
lebih diarahkan untuk memperkuat potensi lokal
5.
Hasil Identifikasi Potensi
Desa :
a.
Karakter positif yang relatif
menonjol dari masyarakat desa-desa di Panggang adalah pekerja keras dan daya
juang tinggi. Karakter ini dibuktikan
dengan bertahannya masyarakat ditengah kondisi
alam kering, keterbatasan air dan tanah yang berbatu/karang. Masyarakat mampu
memenuhi kebutuhan pangan dan subsisten dari hasil bertani di lahan kering dan
berbatu tersebut.
b.
Budaya :
-Budaya bertani subsisten,
menanam untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, jika ada kelebihan panen akan
dijual, merupakan budaya yang dikembangkan nenek moyang. Dan budaya ini
ternyata tidak hanya menjamin kesehatan dan kesejahteraan keluarga, tapi juga
mendidik kita berpola hidup lebih bijaksana dan tidak menjadi manusia rakus.
Budaya ini juga lebih ramah pada alam
dan lebih sedikit menimbulkan kerusakan pada alam. Budaya bertani subsisten ini
sebagai bentuk kemandirian pangan masyarakat.
-Masyarakat juga masih
kuat memegang semangat komunal dan gotong royong.
c.
Kearifan dan Pengetahuan Lokal tentang keragaman dan diversifikasi pangan
juga tentang kemandirian pangan dan bertani untuk subsisten
6.
Sekolah Pagesangan : Mei 2014 - Hingga kini
Membangun proses pendidikan yang
kontekstual dengan situasi budaya setempat. Bertani merupakan bagian yang
mengakar kuat dari kebudayaan di Girimulya, Panggang
·
Sebagai ‘Model Pendidikan’ yang
sedang berupaya menjadi kontekstual dengan realitas, Sekolah Pagesangan memilih
tema belajar bertani sebagai mauatan proses belajar
·
Model pertanian yang dipilih SP
adalah Pertanian Alami (Pertanian Organik), karena pertanian alami/organic :
- Bertani alami merupakan budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan oleh nenek moyang. Jika memilih bertani alami, akan menjadi proses mengingat kembali budaya yang pernah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ilmu dan teknologi yang dikembangkan dalam pertanian organic (seharusnya) juga sangat adaptif dan mudah diserap oleh budaya kita.
- Proses bertani organic/alami, mengutamakan kemandirian dan keberdayaan dari petani dan melepaskan ketergantungan dari industry besar. Keberdayaaan ini menjadi bagian dan upaya perlawanan terhadap kemiskinan. Melalui pertanian organic bisa menjadi media dan proses pembelajaran menuju keberdayaan
- Proses bertani alami merupakan bagian dari proses merawat alam. Jika lingkungan dan alam terjaga, tidak rusak, alam akan membeerikan kehidupan bagi manusia
·
Belajar ilmu, pengetahuan dan
teknologi sederhana untuk mensiasati kondisi alam dengan model pertanian alami
·
Pengolahan hasil panen.
Memberikan nilai tambah hasil panen dengan melakukan pengolahan pangan.
Memberikan nilai tambah ini akan meningkatkan kesejahteraan petani
7.
Proses Belajar di Sekolah
Pagesangan
·
Melalui penguatan kelompok
Saat ini di SP ada 4
kelompok besar :
a. Kelompok Kader
Kelompok Kader terdiri
dari para remaja, yang telah mengikuti proses sejak SSP dan SP diinisiasi,
mereka menjadi kader penggerak perubahan desa. Kelompok kader ini, selain
belajar untuk mempersiapkan masa depan mereka, juga aktif mengawal dan
mengkoordinir kegiatan di desa seperti
pada kegiatan belajar budidaya pertanian organic ; pengolahan paska panen dan
proses pemasaran dan rintisan simpul produsen dan konsumen
b.Kelompok Ibu-ibu
kelompok ibu-ibu
diinisiasi dari Porses Belajar Pengolahan Hasil Panen. Dari proses pengolahan
hasil panen dibentuklah kelompok ibu-ibu. Kelompok ini berfokus belajar pada
pengolahan hasil panen dan budidaya pertanian alami
c.Kelompok Anak-anak
Kelompok
anak-anak usia 6-13tahun diorganisir untuk menjalani proses belajar :
-mengenali desa
dan mengenalkan budaya bertani
-kegiatan lain
yang dilakukan anak-anak : belajar pembibitan dan menanam, dilibatkan di
kegiatan kebun, outbond, lomba, memasak bersama, perpustakaan dll
d.Kelompok Bapak-bapak,
kelompok
bapak-bapak diorganisir melalui proses belajar budidaya pertanian organic/alami
8.
Pilihan Strategy dan Model
Pengorganisasian
·
SP memilih menjadi organisasi
non formal, bukan lembaga formal, bukan yayasan, bukan LSM, bukan pesantren,
bukan pula bagian pemerintah desa ataupun project pemerintah, bukan project
agama dan juga bukan sekolah formal
·
SP melebur dalam dinamika dan
gerakan di masyarakat. Keberadaan SP karena dibutuhkan dan dipelihara oleh
masyarakat sendiri.
·
Konsekwensi dari pilihan ini :
- Segala sumberdaya yang diperlukan untuk penyelenggaraan proses-proses pembelajaran harus ditanggung sendiri, dan harus siap tanpa dukungan dari pihak luar manapun.
- Disadari dan harus siap dari awal jika selama proses akan berjalan dan berjuang sendiri, dan siap jika tidak akan banyak dukungan dari luar
- Jika dirasa jaringan itu penting, maka harus mampu membangun jaringan sendiri
- Harus siap jika gagasan yang dirintis dan diperjuangkan tidak banyak diminati, bahkan mungkin tidak dianggap dan diperhitungkan, (entah sampai kapan)
·
Lesson learn dari pilihan ini :
-
Mengoptimalkan modal social
(social capital)
-
Budaya gotong royong kuat
terasah
-
Mampu Mandiri
-
Tidak banyak yang intervensi
pihak luar
-
Kebutuhan dan capaian bebas ditentukan
oleh masyarakat dan peserta belajar
-
Cara yang efektif untuk belajar
berdaya
-
Tidak ada tuntutan diluar
kemauan dan kemampuan kita
-
Mendapat dukungan dari
teman-teman yang tulus
9.
Sumber Daya Pendukung
Pembelajaran
Bagi saya, setiap orang
punya potensi untuk melampaui semua kesulitan yang dihadapi dalam hidup. Setiap
kesulitan pasti ada jalan keluar. Jika kita mau memberdayakan diri sendiri,
akan muncul ketahanan dan upaya mengatasi kesulitan. Begitu pula dalam
masyarakat atau komunitas. Saya percaya ditengah gempuran beragam persoalan,
masyarakat punya daya tahan dan kemandirian. Kemandirian dan daya juang ini
seharusnya yang dipeliahara dan diperkuat.
Untuk konteks Panggang,
daya tahan dan daya juang sudah teruji dan terbukti dengan mereka memilih
bertahan dan hidup di alam yang kering dan berbatu. Masyarakat panggang
terbiasa menghadapi tantangan alam yang keras. Ketahanan dan daya juang ini
adalah potensi dan kekayaan masyarakat Panggang.
Menjadi komunitas belajar
yang menyatu dengan segenap dinamika yang ada di masyarakat, kami ingin belajar
mengoptimalkan sumberdaya dan kapasitas untuk mendukung proses keberdayaan itu.
Ada banyak ‘kekayaan’ yang kita miliki, yang seringkali tidak tampak.
Seringkali kita memakai Parameter, sudut pandang dan kacamata berbeda untuk
memaknai kekayaan. Daya tahan, daya juang, gotongroyong, semangat komunal,
adalah kekayaan dan modal social yang dimiliki masyarakat. Kami belajar
mengoptimalkan dan memanfaatkan apa yang kami miliki untuk belajar berdaya.
·
Modal social (social capital)
yang dimiliki dan ada di masyarakat
Ketika kelompok anak-anak
ingin belajar bertani dan ingin memulai membuat kebun-kebun belajar, setelah
para orangtua berembug, kel. Orangtua
bersepakat meminjamkan lahan-lahan mereka untuk proses belajar ini. Semua
kebun-kebun rintisan SP adalah pinjaman
lahan dari orangtua baik itu kebun depan halaman rumah marsini, kebun nDelisen,
dan kebun Kepuket.
Dalam proses bertani kami
juga belajar, mengingat kembali (revitalisasi) kekayaan budaya dan pengetahual
lokal tentang pertanian yang diwariskan oleh nenekmoyang yang kini mulai punah,
misalnya ilmu tentang pronoto mongso, keragaman benih, keragaman genetic
tanaman dll
·
Prinsip gotong royong, “sopo
duwe opo, sopo nyumbang opo”
Dalam proses-proses
pembelajaran, segala kebutuhan dan sumberdaya yang dibutuhkan, didapat dari
proses gotong royong. “Siapa punya apa, siapa menyumbang apa” menjadi hal yang
biasa/kebiasaan disetiap kegiatan. Misalnya saat kegiatan belajar, membuat pupuk,
pengolahan pangan hasil panen, bazaar, dll semua partisipan berkontribusi pada
penyiapan bahan dan alat yang dibutuhkan bersama.
·
Mengoptimalkan kreatifitas dan
potensi
Saat kami membutuhkan dana
atau sumberdaya untuk kegiatan terntu, yang kami lakukan, kami mengerahkan
usaha yang bisa kami lakukan terlebih dahulu. Contoh kejadian tahun 2011 lalu, saat
kami mengagendakan belajar dan rekreasi ke jogja, kami membutuhkan dana untuk
transportasi yang tak sedikit. Untuk Fundrising, kami memutuskan untuk membuat
serial bazaar baju layak pakai bekas di Wintaos Girimulya. Baju didapat dari sumbangan
dan donasi dari teman-teman di jogja. Setelah terkumpul hampir 1 truk baju,
kami membuat rangkaian bazaar. Dan hasilnya, dana untuk kegiatan tersebut bisa
ditutup dari hasil bazaar tersebut
- Kebun halaman depan rumah marsini
- Kebun nDelisen
- Kebun Kepuket
- Kebun Ketos
-
Green teen preneur
Program mengisi liburan
dengan menginigisasi usaha : memproduksi dan menjual makanan siap santap olahan
dari kebun. Program Greenteen 1 (desember 2014) diikuti 9 anak dan berlangsung
5 hari, dan total omset yang dihasilkan sebesar 900rb an. semua uang yang diperoleh
dibagi rata kesemua anak. Greenteen 2 diikuti (desember 2015) 7 anak dan
berlangsung 7 hari, total omset lebih dari 2 juta rupiah, dan semua uang yang
didapat juga dibagi rata untuk semua anak
- Jualan Door to door
- Berjualan nasi tiwul, tiwul ayu dan jajanan dari bahan singkong
- Jualan di POJOG (Pasar Organik Jogja)
- Jualan di Kamisan
- Berjualan makanan matang, buah-buahan, hasil bumi (palawija
-
Hingga Tulisan ini ditulis Produk-produk
yang dihasilkan dari kelompok-kelompok SP : Tiwul Instan, Tepung Gaplek,
Criping Singkong, Criping Talas
(kimpul), Criping Balado Singkong, Pathilo, tepung Mocaf, Mengleng, Emping
Garut, Jali-Jali, Beras Merah (Var. Segreng), Kerupuk Singkong, Tempe Koro,
Tempe Benguk, Tempe Cipir. Produk-produk terus
dikembangkan dan dari waktu ke waktu terus bertambah guna memberikan nilai
tambah hasil panen.
0 comments:
Post a Comment