Pengantar; BerusahaTangguh di Tanah yang Tipis
Sebagian besar masyarakat di Desa Girimulya dan Girisekar bermata pencarian sebagai petani. Petani-petani tangguh itu menghadapi kondisi alam yang tak biasa. Tanah bergolong karst, didominasi karang dan batu, lapisan top soil yang tipis, bukanlah perkara mudah untuk mengolahnya. Tantangan tersendiri petani. Air juga menjadi masalah pelik tersendiri. Kondisi tanah dan karst, hampir mustahil untuk membuat sumur. Beberapa kali pernah mencoba membuat sumur, namun sampai kedalaman 25 meter belum jua didapati air. Sulitnya mendapatkan air membuat mereka hanya bergantung pada air hujan. Selama musim hujan, masyarakat menampung air yang jatuh ke bak penampungan. Rata-rata setiap rumah memiliki bak penampungan air yang dibuat dari semen. Air tampungan ini, digunakan untuk minum, memasak makanan, mencuci, mandi dan membersihkan diri. Air tampungan juga untuk memberi minum ternak, menyiram tanaman dan kebun. Jika air tampungan telah habis dan hujan tak kunjung turun mereka harus siap membeli air. Sebanyak 5000liter seharga 125-150rb. Keterbatasan air membuat mereka hanya bisa bertanam setahun sekali, dimana musim hujan tiba. Bertanam setahun sekali berarti mereka panen setahun sekali. Hasil panen berupa padi, jagung, singkong, kacang tanah, biasanya tidak dijual. Umumnya panen habis untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Bahkan jika dikumpulkan, semua hasil panen setahun, seringkali tidak cukup memenuhi kebutuhan pangan keluarga selama setahun. Sulitnya mendapatkan uang cash di dusun dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seringkali mereka harus mencari pekerjaan ‘tambahan’ lain. Umumnya salah satu anggota keluarga, umumnya yang sudah masuk usia produktif (berusia 15-45 tahun), seperti ayah, ibu atau anak yang paling besar pergi merantau keluar dari desa, mencari nafkah bagi keluarga. Bekerja di

0 comments:
Post a Comment