Monday, September 8, 2014

Sekolah (formal) itu Mahal


Sudah menjadi hal lumrah dan bukan hal aneh, di dusun Wintaos Girimulya dan dusun waru Girisekar, setelah lulus dari (SMP) Sekolah Menengah Pertama, anak-anak tidak melanjutkan ke SMA atau SMK. Sebagian dari mereka memilih untuk bekerja menjadi di kota. Pekerjaan yang mereka lakukan, takjauh dari pekerjaan yang dilakukan orang dewasa, bagi perempuan,  sebagai  asisten rumahtangga, babysitter, yang laki-laki biasanya menjadi kuli bangunan, penjaga toko, buruh tani. Sebagian anak laki-laki juga bersedia menjadi buruh di perkebunan (sawit) di sumatera dan Kalimantan mengikuti orangtua atau saudara yang mengajaknya.  Rata-rata usia mereka masih 14-17 tahun, masih bergolong usia anak. Pada umumnya pekerja rentan dengan persoalan traficcking dan tindak kekerasan pada anak. 

Sebagian anak ada juga yang tidak melanjutkan sekolah namun tetap memilih tinggal di desa. Beberapa dari mereka bersedia membantu orangtua bekerja di ladang. Namun, ada sebagian lain yang tak mau membantu orang tua dan menjadi pengangguran. Menganggur rentan dengan masalah social. Tanpa aktivitas rutin, Anak-anak muda itu sering bergerombol, merokok dan mabuk bersama, balapan motor, tak jarang dekat dengan tindakan pidana.

Sekolah Formal (SMP, SMA/SMK), di satu sisi bisa menjadi salah satu upaya pencegahan dan langkah afirmasi untuk meminimalisir ancaman kekerasan/resiko dari menjadi pekerja anak. Namun, disisi lain, sebagian besar orangtua di wintaos , juga waru menganggap sekolah belum mampu menjawab permasalahan social yang terjadi di masyarakat. Lulusan sekolah tinggi, tidak menjamin mempunyai kualitas hidup yang lebih baik dibanding dengan yang tidak sekolah. sebagian besar orangtua di desa berpendapat asalkan sudah bisa calistung sudah lah cukup sekolahnya. Toh..mereka banyak menemukan contoh didesa, banyak lulusan SMP yang bisa bekerja dan ‘sukses’ menghasilkan uang  bagi keluarga. Jadi buat apa, sekolah tinggi jika nantinya akan menjalani kehidupan yang tidak jauh beda.

Salah satu penyebab ketakutan para orangtua menyekolahkan anak,  karena ‘Sekolah identik dengan serapan biaya tinggi’. Harus diakui butuh bea yang tak sedikit untuk mengirim anak ke sekolah. Keluarga harus menyiapkan SPP, uang pangkal  masuk sekolah, uang pembangunan, bea transportasi, uang saku(uang makan) anak untuk sekolah, bea hidup jika anak kost. untuk mengirim anak ke sekolah, mereka seringkali harus menjual asset  yang dimiliki keluaga. Sapi, kambing, motor, bahkan tanah harus dijual untuk membiayai sekolah anak.

Beberapa anak memutuskan untuk tetap bersekola dan ingin melanjutkan pendidikannya. Jumlah mereka sekitar,tak lebih dari 30% dari total kelulusan tahun itu. Rata-rata, anak-anak lebih memilih sekolah menengah kejuruan. Mereka pikir, dengan di SMK mereka akan lebih memiliki ketrampilan kerja (vocasional). Dengan harapan, selepas SMK mereka bisa bekerja atau membuka usaha sendiri. SMK terdekat dari kecmatan panggang adalah SMK Purwosari, dengan jarak sekitar 15-20km dari Dusun Wintaos. Namun sayangnya tidak ada angkutan umum (Bis atau Angkutan) dari dan menuju Purwosari, sulit bagi mereka menuju kesana. Dengan kontur perbukitan, jalan naik turun, terjal, sangat sulit ditempuh menggunakan sepeda kayuh. Untuk berjalan, sepertinya terlalu jauh, mungkin butuh 2 lebih jam untuk sampai. SMK yang paling sering menjadi referensi adalah SMK saptosari yang berjarak sekitar 40km dari Wintaos. SMK Saptosari sudah cukup lama berdiri dan dikenal baik oleh masyarakat, selain itu akses menuju kesana, walaupun jarak lebih jauh daripada purwosari namun akses kenana relative lebih mudah. Ada angkutan umum/bis sampai saptosari. namun untuk jarak tempuh harian bagi anak-anak cukup berat. Sehingga rata-rata anak-anak girimulya yang bersekolah disana harus kost. Biaya hidup harus ditanggung sendiri. Artinya, biaya untuk sekolah jadi lebih tinggi/banyak. anak-anak-anak pergi meninggalkan kampong untuk sekolah semakin menakutkan bagi orang tua, mereka kawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan orangtua.

Pengalaman  belajar saya menemani anak-anak di wintaos sejak 6 tahun lalu, mengantarkan saya untuk berkesimpulan, bahwa anak-anak dan orang-orang tersebut, pada dasarnya adalah para pemberani, tipe pekerja tangguh hasil tempaan alam dan kehidupun yang keras. Mereka adalah orang-orang yang berani menempuh segala resiko untuk hidup di tengah alam yang kritis ini. namun perlu perubahan polapikir untuk keluar dari kemiskinan mereka. kemampuan berfikir kritis akan membebaskan mereka untuk berani menantang dan membenahi hidup mereka. Mereka perlu mengorganisir diri supaya memperkuat kapasitas pribadi dan kelompok mereka. Penguatan kepemimpinan dan Lifeskill (baik itu softsklill maupun vokasional), juga pengetahuan entrepreneur (kewirausaahaan), layaknya perlu dimiliki oleh anak-anak muda ini. Hal itu semua dibutuhkan untuk melawan kemiskinan yang mereka hadapi.


0 comments:

Post a Comment