Sekolah (formal) itu Mahal
Sudah menjadi hal lumrah dan bukan hal aneh, di dusun Wintaos Girimulya dan dusun waru Girisekar, setelah lulus dari (SMP) Sekolah Menengah Pertama, anak-anak tidak melanjutkan ke SMA atau SMK. Sebagian dari mereka memilih untuk bekerja menjadi di
Sebagian anak ada juga yang tidak melanjutkan sekolah namun
tetap memilih tinggal di desa. Beberapa dari mereka bersedia membantu orangtua
bekerja di ladang. Namun, ada sebagian lain yang tak mau membantu orang tua dan menjadi
pengangguran. Menganggur rentan dengan masalah social. Tanpa aktivitas rutin,
Anak-anak muda itu sering bergerombol, merokok dan mabuk bersama, balapan
motor, tak jarang dekat dengan tindakan pidana.
Sekolah Formal (SMP, SMA/SMK), di satu sisi bisa menjadi
salah satu upaya pencegahan dan langkah afirmasi untuk meminimalisir ancaman
kekerasan/resiko dari menjadi pekerja anak. Namun, disisi lain, sebagian besar orangtua
di wintaos , juga waru menganggap sekolah belum mampu menjawab permasalahan
social yang terjadi di masyarakat. Lulusan sekolah tinggi, tidak menjamin
mempunyai kualitas hidup yang lebih baik dibanding dengan yang tidak sekolah.
sebagian besar orangtua di desa berpendapat asalkan sudah bisa calistung sudah lah cukup sekolahnya. Toh..mereka
banyak menemukan contoh didesa, banyak lulusan SMP yang bisa bekerja dan
‘sukses’ menghasilkan uang bagi
keluarga. Jadi buat apa, sekolah tinggi jika nantinya akan menjalani kehidupan
yang tidak jauh beda.
Salah satu penyebab ketakutan para orangtua menyekolahkan
anak, karena ‘Sekolah identik dengan serapan
biaya tinggi’. Harus diakui butuh bea yang tak sedikit untuk mengirim anak ke
sekolah. Keluarga harus menyiapkan SPP, uang pangkal masuk sekolah, uang pembangunan, bea
transportasi, uang saku(uang makan) anak untuk sekolah, bea hidup jika anak
kost. untuk mengirim anak ke sekolah, mereka seringkali harus menjual
asset yang dimiliki keluaga. Sapi,
kambing, motor, bahkan tanah harus dijual untuk membiayai sekolah anak.
Beberapa anak memutuskan untuk tetap bersekola dan ingin
melanjutkan pendidikannya. Jumlah mereka sekitar,tak lebih dari 30% dari total kelulusan
tahun itu. Rata-rata, anak-anak lebih memilih sekolah menengah kejuruan. Mereka
pikir, dengan di SMK mereka akan lebih memiliki ketrampilan kerja (vocasional). Dengan harapan, selepas SMK
mereka bisa bekerja atau membuka usaha sendiri. SMK terdekat dari kecmatan
panggang adalah SMK Purwosari, dengan jarak sekitar 15-20km dari Dusun Wintaos.
Namun sayangnya tidak ada angkutan umum (Bis atau Angkutan) dari dan menuju
Purwosari, sulit bagi mereka menuju kesana. Dengan kontur perbukitan, jalan
naik turun, terjal, sangat sulit ditempuh menggunakan sepeda kayuh. Untuk
berjalan, sepertinya terlalu jauh, mungkin butuh 2 lebih jam untuk sampai. SMK
yang paling sering menjadi referensi adalah SMK saptosari yang berjarak sekitar
40km dari Wintaos. SMK Saptosari sudah cukup lama berdiri dan dikenal baik oleh
masyarakat, selain itu akses menuju kesana, walaupun jarak lebih jauh daripada
purwosari namun akses kenana relative lebih mudah. Ada angkutan umum/bis sampai saptosari. namun
untuk jarak tempuh harian bagi anak-anak cukup berat. Sehingga rata-rata
anak-anak girimulya yang bersekolah disana harus kost. Biaya hidup harus
ditanggung sendiri. Artinya, biaya untuk sekolah jadi lebih tinggi/banyak. anak-anak-anak
pergi meninggalkan kampong untuk sekolah semakin menakutkan bagi orang tua,
mereka kawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan orangtua.
Pengalaman belajar saya
menemani anak-anak di wintaos sejak 6 tahun lalu, mengantarkan saya untuk
berkesimpulan, bahwa anak-anak dan orang-orang tersebut, pada dasarnya adalah
para pemberani, tipe pekerja tangguh hasil tempaan alam dan kehidupun yang
keras. Mereka adalah orang-orang yang berani menempuh segala resiko untuk hidup
di tengah alam yang kritis ini. namun perlu perubahan polapikir untuk keluar
dari kemiskinan mereka. kemampuan berfikir kritis akan membebaskan mereka untuk
berani menantang dan membenahi hidup mereka. Mereka perlu mengorganisir diri
supaya memperkuat kapasitas pribadi dan kelompok mereka. Penguatan kepemimpinan
dan Lifeskill (baik itu softsklill
maupun vokasional), juga pengetahuan entrepreneur (kewirausaahaan), layaknya
perlu dimiliki oleh anak-anak muda ini. Hal itu semua dibutuhkan untuk melawan
kemiskinan yang mereka hadapi.

0 comments:
Post a Comment