Friday, January 30, 2015

Pagesangan, semangat untuk hidup dan menghidupi



Setiap kawan yang datang dan berdiskusi tentang bagaimana Sekolah Pagesangan (SP) dijalankan, Selalu ada pertanyaan, Gimana dengan dana untuk biayai kegiatannya? Dapat dana dari mana? Siapa yang mensupport ? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya.

Sebagai sekolah komunitas yang dirintis berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat, SP diimpikan sebagai komunitas mandiri. SP bukanlah LSM, bukan pula bagian dari Proyek pemerintah, bukan bagian dari organisasi keagamaan. SP juga bukan sekolah formal. SP hanyalah sekelompok orang, anak-anak, anakmuda yang ingin belajar tentang kemandirian dan keberdayaan secara sederhana dan biasa saja.
Selama perjalanan, kami belum pernah menulis segala bentuk proposal. Kami juga belum pernah berurursan dengan aneka Funding ataupun agency. Belum pernah pula didukung pemerintah ataupun organisasi social. Tapi nyatanya komunitas ini tetep hidup dan bertahan. Selalu timbul pertanyaan pada kami, bagaimana kalian bisa bertahan dan berjalan? Ada banyak cara kreatif yang bisa jadi jalan keluar jika kita memang mau menjadi berdaya. Tapi jalan ini menuntut konsekwensi. Jalan ini menuntut ikhlas, capek, tekad baja, komintmen tinggi dan kerja keras. Tapi justru banyak sekali pelajaran selama menempuh jalan ini. (note : lain kali saya cerita ya , kali ini saya hanya mau jawab pertanyaan beberapa kawan, gimana cara kami survive/bertahan tetap berjalan)
Beberapa yang langkah yang pernah dilakukan SP untuk tetap survive selama ini diantaranya :
Mas Fery menjelaskan soal wirausaha

1. Setiap relawan, fasilitator, maupun guru tamu yang bergabung di SP maupun kegiatan SP tidak ada yang mendapatkan gaji, honor, uang transport dan support materi lainnya. Setiap relawan atau fasilitator harus selesai dengan kebutuhan pribadi dan domestic masing-masing. Setiap relawan justru ‘diharuskan’ menyumbang kas SP semampunya.

2. Materi dan muatan pembelajaran selain harus kontekstual dengan situasi, pemasalahan dan potensi desa, juga wajib berbiaya rendah dan memanfaatkan sumberdaya/potensi desa yang ada.

3. SP tidak pernah meminta dukungan orangtua murid dalam bentuk uang, SPP ataupun tarikan lainnya. SP didirikan karena kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang solutif, komunitas SP tetap bertahan karena dipelihara bersama. Orangtua murid/pelajar, melakukan pertemuan secara berkala. Orangtua bersama anak-anak SP, belajar bersama dan terlibat kegiatan dan mendukung SP dengan beragam cara. Hampir semua orangtua memperbolehkan rumahnya dipakai untuk ruang belajar bagi SP. Kami bisa belajar dimanapun, berpindah-pindah sesuai kebutuhan materi pembelajaran. Tapi untuk sementara,saat ini, base camp kami ada di rumah orangtua marsini(salah satu anak SP). Beberapa orangtua menyediakan lahan dan tanahnya untuk dipakai kebagai lokasi pembelajaran dan kebun percobaan anak-anak SP. Para orangtua dengan ikhlas mengumpulkan benih tanaman, kotoran ternak, dedaunan dll bagi proses pembelajaran SP.

membungkus dan berjualan

4. Sebagai komunitas yang bercita-cita menjadi orang-orang yang berdaya, maka kami juga seharusnya menempuh cara-cara mandiri untuk mendanai dan mendukung program. Program-program yang dilakukan SP sangat kuat nafas wirausahanya. Setiap rancangan program harus mengandung muatan kewirausahaan. Melalui aneka rintisan usaha kecil yang dimotori anak-anak.misalnya:

a. Beasiswa tiwul. Produksi tiwul instan, baby tiwul. Produksi dilakukan oleh anak-anak dan para orangtua mereka. Pemasaran dilakukan secara langsung dan online oleh anak-anak.

b. Greenteenpreneur. Rintisan usaha remaja berbasis panen dari kebun. Kegiatan yang sudah dan sedang berjalan adalah produksi dan berjualan aneka panganan lokal berbasis singkong (kue –kue) dan tiwul. Bahan pangan diperoleh dari panen kebun, sedangkan Produksi dan pemasaran produk makanan dilakukan sepenuhnya oleh anak-anak SP di Jogja.

c. Berjualan produk panganan berbasis singkong secara berkala di komunitas POJOG letussee, Komunitas Pasar Sasen dan komunitas lain.

d. Bazaar Murah aneka barang bekas layak pakai. Kami berjualan baju, sepatu, mainan dan buku bekas secara berkala. Barang-barang kami kumpulkan dari relasi dan teman. Lokasi bazaar dilakukan di dusun Wintaos. Pembelinya adalah masyarakat Wintaos dan sekitarnya.

e. Berjualan kue dan panganan. Anak-anak membuat kue dan panganan, dan mereka sendiri yang menjualnya ke masyarakat sekitar dusun WIntaos, misalnya berjualan donat, kripik bayam, mangleng dll


f. Kebun usaha. Kegiatan ini berupa menanam,memelihara dan mengelola tanaman di kebun. Menanam aneka tanaman, selain untuk konsumsi sendiri, juga diolah menjadi produk yang berdaya jual.Segala macam program dan kegiatan usaha tersebut tentu bernilai pembelajaran, namun segala dana yang dihasilkan dari usaha tersebut SEPENUHNYA digunakan untuk mendukung kegiatan dan insentif bagi anak-anak yang terlibat.

5. Beberapa kawan dan relasi yang mengetahui perjalanan kami dan bersimpati pada kegiatan SP, ada yang bersedia menjadi donatur. Kami tidak meminta, tapi jika ada yang mau berdonasi secara ikhlas tanpa imbalan dan tanpa tuntutan ikatan, akan kami terima. Segala macam sumbangan uang atau barang (bekas maupun baru), Sepenuhnya digunakan untuk kegiatan dan anak-anak SP. Dan kami mengelola keuangan secara bertanggungjawab dengan system pelaporan tercatat secara detail dan lengkap. Secara berkala (tahunan) Lap Keuangan kami laporkan kepada donator. Terus terang kami tidak menerima bantuan dari partai politik dan para pihak yang memberikan bantuan dengan maksud/imbalan/tuntutan khusus.
salam semangat dari kami

0 comments:

Post a Comment