Kelompok Belajar Orangtua
Karena para orangtua melihat Anak-anak mereka yang mau bekerja menghidupkan lahan, mencangkul mengolah tanah-tanah yang keras dan ‘berhasil’ membuatnya lebih gembur dan hidup. Karena juga para orangtua melihat anak-anak mereka mau dan mampu mengolah hasil panen (mengolah gaplek menjadi tiwul dan mengolah koro menjadi tempe), dan ternyata yang dikerjakan anak-anak mereka membuahkan hasil.
Kegiatan yang dilihat, didengar dan dirasakan tersebut, membuat para orangtua ‘terinspirasi dan tergerak’ untuk ingin tahu dan ingin belajar juga seperti anak-anak mereka, untuk belajar menjadi petani yang lebih mandiri dan bertani yang lebih alami…
Para Orangtua sebenarnya sudah banyak keluhan terkait perubahan kondisi fisik tanah yang mereka kelola. Tanah dan lahan mereka kini menjadi kian keras, tandus dan kering.
Seperti yang diungkapkan Pak yanto (usia 60-an tahun). Pak yanto bertani sejak muda, menurutnya, ketika tahun 1960-an, (masa sebelum pakai urea dan obat-obatan kimia-revolusi hijau), tanah-tanah tidak sekeras dan se-kering seperti sekarang.
Menurutnya, dulu tanah juga lebih subur, sekarang kalau menanam padi tanpa dipupuk urea, gak bakal panen. Selain lebih keras, kini dalam tanah juga banyak uret (ulat tanah). Mengamati anak-anak SP bisa membuat tanah lebih gembur dan hidup. Terbit keinginan pak yanto untuk tahu apa yang dilakukan anak-anak terhadap tanahnya.
Bapake murni juga mempunyai keinginan yang selaras, saat melihat murni semangat menjadi petani muda, dan memperoleh penghasilan dari membuat tempe koro, bapak dan mamak nya juga ingin tahu bagaimana membuat kompos, membuat Mol, pupuk cair, agar tak membeli urea. Apalagi jika bisa mengembalikan tanah-tanah mereka seperti dulu, saat belum dirusak urea.
Para orangtua yang mempunyai ketertarikan untuk belajar bertani yang lebih alami, selanjutnya diorganisir dalam kelompok belajar ‘orangtua’ SP. keinginan belajar ini, disambut baik oleh Mas Kuncoro (selaku guru kami untuk bertani). Mas kuncoro bersedia memfasilitasi dan sharing terkait ilmu dan pengalaman bertani secara mandiri dan alami.
Keinginan-keinginan untuk belajar ini, hal yang luar biasa bagi saya, keinginan belajar, keinginan merubah kondisi, menjadi modal awal yang luarbiasa bagi perubahan. Perubahan menuju kualitas hidup dan alam yang lebih sehat dan baik.
Bahwa bertani bukan hanya sekedar menanam demi mengenyangkan manusia. Tapi bertani seharusnya berkah bagi sesama dan semesta. Bertani secara alami(selaraas alam), berarti, menanam, mengolah tanah, memelihara, memberkahi dan memberikan ruang hidup bagi jutaan mahluk hidup lain seperti bakteri, jamur, hewan-hewan dan tumbuhan lain yang juga berhak hidup sebagai sesame mahluk tuhan.
Dan keinginan belajar dari para orangtua menjadi babak baru bagi sekolah pagesangan (SP), bahwa, semua orang yang menginginkan kualitas hidupnya lebih baik, harus mau banyak belajar, belajar memaknai proses dan pengalaman yang dilaluinya. Dan SP berperan sebagai media dan wadah belajar bagi siapa saja yang ingin belajar dan berproses, tak memandanng, usia, gender, asal kelompok, agama dll
Kelompok orangtua, menjadi kelompok pionir yang diharapkan menjadi penggerak ‘orangtua’ lain di tingkat desa. Dengan hadirnya kelompok kecil ini, mereka akan belajar dan mempraktekan apa yang dipelajarinya di tingkat local, kami berharap kelompok ini akan menarik dan mewarnai komunitas yang lebih besar.
Workshop membuat pupuk N, P, K cair — bersamaDhenhokk Mharshinii Ragiel dan Arny Fhebryani Ajhazmara.
Menumbuk dedaunan penghasil Nitrogen (daun tayuman, daun sengon, daun kacang, daun leresede) dedaunan diperoleh dari sekitar. membuat pupuk N, supaya gakbeli dan menggunakan urea
menyiapkan bahan-bahan untuk pembuatan pupuk N
Diskusi tentang tanah-tanah yang sakit dan mati karena urea
Tanah yang subur itu berbeda dengan tanah yang sehat. tanah yang sehat, adalah tanah yang masih banyak banyak (milyaran) mikrob (bakteri dan jamur) dan hewan-hewan yang selayaknya hadir pada tanah yang sehat. Tanah yang sehat sudah dipastikan subur, karena mengandung hara yang dibutuhkan tumbuhan. sebaliknya tanah yang subur belum tentu sehat. karena tanah yang subur tapi tak sehat bisa jadi hanya kaya hara, tapi tidak ada mkhluk hidup didalamnya
diskusi tentang tanah sakit, uret (ulat tanah) sebagai indikator tanah sakit, dan miskin mikrob
orangtua dan anak-anak samasama belajar membuat pupuk N secara mandiri
workshop membuat pupuk cair N
bahu membahu menyiapkan bahan dan alat untuk membuat pupuk cair
menambahkan starter dalam 'adonan' bahan pupuk cair N (starter berupa mikroba yang terdapat dalam rumen sapi)
diskusi dan workshop membuat bokashi
bahan-bahan bokashi : kotoran kambing, abu, starter, air diaduk menjadi satu sampai kelembaban tertentu (menggumpal jika dikepal). diperam selama 3 minggu
Membuat bokashi samasama mengaduk bahan-bahan supaya bercampur dan rata bahan-bahan bokashi : kotoran kambing, abu, starter, air diaduk menjadi satu sampai kelembaban tertentu (menggumpal jika dikepal). diperam selama 3 minggu
etelah belajar, selalu makan bersama





















0 comments:
Post a Comment