Sunday, September 20, 2015

Kita dan Budaya Konsumen

Mau tak mau, kita harus jujur mengakui bahwa budaya 'konsumen' sudah lama melekat pada diri kita. Pahit memang, harus mengakui bahwa kita bukanlah bangsa 'produsen'.

Jika memang kita bukan bangsa produsen, mari kita jawab dengan jujur, identifikasi kebutuhan (pokok, sekunder dan tersier) kita dari sejak kita bangun, sampai kita tidur lagi berapa persen yang berhasil kita produksi sendiri?
contoh yang paling gampang adalah kebutuhan pokok, misalnya dari sisi kebutuhan Pangan, berapa % dari kita yang memproduksi dan menanam Pangan kita sendiri ? dan berapa % dari total panganan yang masuk mulut kita yang kita tanam dan panen sendiri?

Selanjutnya dari pakaian kita...sejauh mana kita membuat baju kita sendiri, ..paling tidak kita menngunakan pakaian produksi lokal yang relatif 'rendah emisi karbon'?
Dan seterusnya...

Budaya 'membeli' dan mendapatkan barang dan jasa dari orang lain, ternyata sulit kita lepaskan. bukan begitu? Tak heran ketika rupiah anjlok, kita kelabakan. Semua kebutuhan ikut melambung... karena ternyata sebagian besar Kebutuhan Dasar kita ternyata kita beli dan Impor...(contoh paling nyata adalah kebutuhan kedelai untuk Tempe dan tahu yang dimakan sehari-hari hampir 90% adalah kedelai impor dari USA). Seandainya kita menanam sendiri kedelai, seperti kami menanam KORO untuk Tempe yang kami buat sendiri, kita gak akan peduli dengan nilai tukar dolar ke rupiah bukan?

Bagi saya, seharusnya, moment 'krisis ekonomi' kini bisa membantu kita untuk berkaca kembali, berkaca dengan jujur dan melihat, sejauh mana kontribusi kita dalam kesulitan berjamaah yang kini terjadi ...

Berkaca juga membuat kita bisa melihat dengan jelas diri kita, juga membantu kita berfikir, memulai merubah budaya diri dan menjadi lebih produktif dan solutif..

Saya percaya itu tak mudah, tapi sangat mungkin dicoba...Jika kita mau..:D





 Senangnya...karena rosela, cabe, kenikir, bayem, tumbuh subur diatas tanah yang dulunya sakit dan keras sekali. 



 Kebun Legum
tanah yang sakit dan keras itu, kami rehabilitasi dengan menambahkan beberapa gunung kompos dan tanami dengan koro-koro-an...koro-koroan (legum) memiliki bintil akar yang bisa bersimbiosis dengan bakteri pengikat Nitrogen, cocok sekali untuk menyurkan tanah. Koro nya kami panen untuk bahan baku Tempe Koro. tempe koro, Protein nabati yang menyehatkan bagi kita bukan? — bersama Chandra Kirana dan Dhenhokk Mharshinii Ragiel.




oki di sabtu santai...menjual produk dari kebun, tiwul dan teman-temannya 
grin emotikon 
ada juga jajanan sehat dari singkong, tiwul ayu, klepon dan cobro...semua bahan dari kebun

Oki dan Tiwul Nal Nil Nul produksi kami — bersamaOki Cahya.

Di kedai Rasayana
Tempe Koro
dibuat dan diproduksi dari bahan baku koro, koro hasil panen para orantua. koro ini mudah tumbuh dan tidak manja, tidak perlu ditpupuk dan mau tumbuh di gunung-gunung batu/karang (menthuk)
koro organik ini, difermentasi menjadi tempe koro...protenin nabati, sangat bergizi dan menyehatkan
Murni dan kawan-kawan bisa memproduksi sendiri tempe koro, kini rutin tiap minggu dan rabo memproduksi tempe dari 2-4 kg koro
  tanah yang keras itu akhirnya bisa ditanami bayam, bayam dipetik dan dipanen tiap hari

kala air mengalir, pam nyala, langsung menyiram kebun. pam disini agak unik, mengalir tak tentu, bisa seminggu sekali, 3 hari sekali atau 2 minggu sekali...tapi lumayan, tetap alhamdulilahhh...bisa menampung air untuk kebutuhan dan siram kebun



Senyum Murni dan rosela yang ditanamnya 4 bulan lalu...kini rosela mulai bisa dipanen...kami senang minum teh rosela hasil panen sendiri 
grin emotikon

0 comments:

Post a Comment