Wednesday, October 1, 2014

Perdana di Waru

Perdana di Waru

Minggu, 23 Februari 2014
autor : Diah Widuretno

Pak giarto menjemputku di perempatan legundi, Girimulya. Dia sudah menungguku, aku datang telat 20 menit dari perjanjian kami. Setelah kami ngobrol sebentar, pak giarto segera memimpin perjalanan kami menuju Waru, Girisekar. Aku belum pernah ke Dusun waru. Sebelum jalan, Pak Gi (sebutan untuk pak giarto) sudah mengingatkanku, jika perjalanan kesana ‘agak sulit’ mengingat jalannya penuh batu dan licin, aku mengiyakan tanpa rasa kuatir.

Jalanan dari Dusun Kadisobo (dusun terluar paling dekat jalan raya, menuju waru belum diaspal, penuh batu dan tak rata. Jika musim hujan harus ekstra hati-hati, sedikit lengah bisa tergelincir. Di kanan dan kiri jalan yang tampak adalah hutan, kerimbunan pohon, pohon jati, dan tanaman keras lain. Pohon-pohon tersebut merupakan bagian dari hutan rakyat, bentuk investasi yang dimiliki oleh masyarakat. Dari kadisobo, Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di Waru.

Pak gi, membawa kami ke lokasi pertemuan, yang ternyata di Balai dusun waru. Aku agak kaget, semula kupikir kami akan ngobrol di rumah pak gi. Ternyata sudah ada sekitar 12 orang yang menunggu di balai dusun, sebagian besar mereka remaja berusia belasan dan 2 diantaranya ibu-ibu. Dibalai juga sudah digelari tikar dan mereka juga sudah menyiapkan kacang dan minuman untuk snack. Pak gi, terkesan agak serius menyambut kedatangan kami. Pembicaraan dibuka dengan perkenalan kami yang hadir di forum ini. pak gi selanjutnya bercerita tentang seputar masalah social yang terjadi di waru. Rata-rata anak-anak di waru bersekolah formal sampai SMP. Setelah lulus banyak yang bekerja menjadi buruh informal dan pekerja rumah tangga. Mereka bekerja karena tuntutan ekonomi keluarga.

Hampir semua masyarakat bertani. Bertani untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari. Para orangtua berladang untuk menanam kebutuhan pangan pokok, seperti beras, jagung, kacang tanah. Mereka juga bertananm sayuran (kacangpanjang, bayam, mlinjo, bligo,dll) juga buah-buahan seperti srikaya, pisang, jambu, papaya. Tanaman Apotik hidup seperti empon-empon sebagai tanaman sela pada tanaman Jati dan tanaman keras lain. Hasil pertanian, mungkin bisa memenuhi kebutuhan pangan, namun belum mampu menutup kebutuhan hidup yang lain, misalnya sandang, papan, pendidikan, dana untuk nyumbang dll. Desakan kebutuhan ‘memaksa’ salah satu atau salah dua anggota keluarga, (biasanya dilakukan oleh ayah, ibu atau anak tertua atau anak-anak yang dianggap sudah besar) untuk mencari pekerjaan lain, biasanya mereka ke kota untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Kondisi dan realitas ini, menjadi salah satu penyebab anak-anak selepas SMP memutuskan untuk bekerja

Rata-rata pekerjaan Ngalas (sebutan masyarakat untuk bekerja di ladang) dikerjakan oleh orangtua. Menurut Pak Gi, sejak generasi yang lahir tahun 1990 an keatas sudah mulai jarang yang mau membantu orangtua di kebun. Anak-anak muda, remaja yang masih sekolah, sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah formal mereka, sepulang sekolah mereka lebih banyak nonton tv dan main. Sore hari  jika membantu orangtua, mereka lebih banyak terlibat pada pekerjaan domestic seperti membersihkan rumah, mencuci atau memasak.
anak-anak muda di waru sudah banyak terpengaruh symbol-simbol moderenisasi. Setiap anak, bahkan yang masih usia SD, sudah memiliki HP. Tak punya HP, akan merasa ketinggalan jaman dan kurang gaya. Mereka merasa tidak percaya diri, dan tertinggal informasi. . Untuk anak-anak remaja, akan telihat keren jika sudah punya Motor, bahkan ada yang mencoba bunuhdiri dengan memakan obat nyamuk bajar gara-gara tidak dibelikan motor orangtuanya.

Pak Gi bercerita juga tentang dirinya, bahwa dia bukanlah bagian dari pejabat pemerintahan desa. Dia semacam tokoh agama dan dituakan di desa ini. Pak gi merintis pendirian TPA (Taman Pendidikan Quran) dan salah satu orang yang tetap menhidupi hingga kini. Menurutnya, TPA juga pernah mengalami masa jayanya, sekitar tahun 1996. selaku pegiat keagamaan membuat pak cukup dihormati oleh masy dusun. Pak gi juga memiliki akses untuk menggunakan Balai Dusun untuk kegiatan TPA, kegiatan keagamaan dan kegiatan lain.

Kondisi dan masalah social yang terjadi di dusunnya menggerakkan pak gi untuk melakukan kerja nyata bagi dusunyya. Selain menginisiasi TPA pak gi, mengajak saya ikut merancang kegiatan seperti yang saya lakukan di SSP. pak gi mengetahui kegiatan SSP sejak 5 tahun lalu, dan menurut pag gi, dia juga mengikuti perkembangan SSP melalui anak-anak SMP Bina Muda yang ikut bergabung di SSP. dia ingin membuat kegiatan sejenis untuk anak-anak di dusunnya. Dia berharap, dengan kegiatan ini, bisa memberi dampak positif bagi kegiatan yang lain, anak-anak, termasuk TPA yang dirintisnya.


Kami berdiskusi sampai tengah hari, pak gi dan teman-teman lain berusaha memberikan sebanyak mungkin informasi terkait kondisi waru kepadaku. Kami bersepakat untuk menyepakati mengawali pertemuan dengan anak-anak waru  tanggal 2 maret 2014. pertemuan ini mengagendakan perkenalan dan membicarakan rencana kegiatan disini, semacam PRA. Bagiku, aku ingin melihat respon anak-anak secara langsung. Aku ingin tahu bagaimana anak-anak disini melihat kehidupannya, desanya dan kebutuhan mereka mempersiapkan masa depan. Aku juga menginginkan, jikalau jadi menginisiasi kegiatan disini, kebutuhan untuk berkumpul harus juga muncul dari anak-anak. Jika anak-anak menginginkan untuk berkumpul dan belajar bersama, tentu saja, saya bersedia menemani dan memfasilitasi.

0 comments:

Post a Comment