Tuesday, February 10, 2015

Greenteenpreneur #1

Greenteenpreneur, sebuah nama yang diberikan bagi kegiatan anak-anak SP selama masa liburan Desember ini. Anak-anak difasilitasi merintis usaha mereka sendiri. Usaha kuliner, berbasis pada pengolahan hasil kebun mereka sendiri. Greenteenpreneur kuranglebih dimaknai sebagai usaha yang dirintis anak remaja, berbasis sumberdaya hasil kebun desa, memberdayakan diri /kelompok dan ramah lingkungan.

Bangun pagi untuk memasak




Anak-anak diminta berkreasi memberikan nilai tambah pada hasil kebun. Hasil kebun, berupa singkong, dan aneka sayuran, diolah menjadi produk pangan yang berdaya jual. Tentu saja segala proses dilakukan oleh anak-anak sendiri. Mulai dari persiapan, proses memasak, pemasaran, pengelolaan keuangan dan team kerja. Basecamp dan dapur acara akan dilakukan di rumah saya di dusun Jati, Desa Wonokromo Pleret-Bantul. Marsini, oki, murni, karnati, arni, wulan, hanan, livia, sepakat untuk mengikuti kegiatan ini. Perencanaan mulai dilakukan beberapa minggu sebelum acara, mendiskusikan teknis dan persiapan kegiatan.

Kami menyepakati untuk memproduksi dan menjual paket nasi tiwul (nasi tiwul, sayur (oseng-oseng sayur), botok/pelas, tempe goring dan teri), tiwul ayu (tiwul yang dimasak manis menggunakan gula merah dan ditaburi parutan kelapa) dan bolu singkong. Proses persiapan dilakukan tanggal 21-23 November 2014. Anak-anak mengidentifikasi bahan-bahan yang diperlukan. Bahan-bahan dipanen dari kebun dan beberapa bahan seperti tempe kedelai dan koro, kerupuk singkong, harus dipesan dulu ke pengrajin. Pengrajin juga berasal dari dusun Wintaos. Mereka juga mengolah sendiri singkong kering (gaplek ) menjadi tepung gaplek (bahan baku tiwul) melalui proses nutu. Sayur mayur seperti daun papaya, nanka muda, daun so(melinjo), kacang panjang, mereka petik dari kebun. Mereka memasukan semua bahan-bahan dalam karung-karung kecil supaya memudahkan mengangkutnya dari WIntaos (Panggang) ke basecamp Jati.

Tanggal 23 pagi hari, anak-anak naik bis dari panggang menuju Jati. Gonta-ganti bis sebanyak 3x untuk mencapai basecampJati. Setelah istirahat sebentar, kami mulai melakukan persiapan dan uji coba dan pemantaban beberapa menu yang akan dijual. Sore hari kami melakukan diskusi memantabkan jadwal dan penentuan area jualan. Kami menyepakati untuk produksi dan berjualan selama 4 hari (rabo, kamis, jumat, sabtu). Rabo akan berjualan disekitar dusun Jati/ sekitar basecamp, mulai bergerilya jam 06.00. Kamis akan berjualan disekitar Bringharjo-malioboro mulai jam 10 an pagi, Jumat berjualan di POJOG (Pasar Organik Jogja) di Café Letussee-Hotel Amelia, sore jam 16.00-19.00, di Mrican dan Sabtu berjualan di sekitar Jati dan sekitarnya, pagi hari jam 06.00.

Rabo dini hari, jam 03.00 pagi, kami sudah bangun, membersihkan diri, lalu memulai memasak. Memasak nasi tiwul, oseng-oseng nangka, kacang, daun so, menggoreng tempe, teri, untuk snack kami memasak Bolu Singkong. Semua orang bekerja, tidak ada yang diam. Kompor hanya 2 jadi kami melakukan penjadwalan dalam memasak diatas kompor. Sekitar jam 6 pagi makanan mulai matang, kami melakukan packing. Packing pakai daun, lebih ramah lingkungan. Mengurangi sampah plastik, Kami juga taksediakan plastik kresek. Sekitar jam 07.00 anak-anak mulai memasarkan produknya. Penjualan dilakukan secara door to door. Tanpa malu dan gengsi. sekitar jam 8.30an anak-anak sudah kembali ke basecamp, total uang yang didapat 218rb. Mereka bilang capek, tapi senang sekali, dagangan habiss.

Rabo siang-sore, kami mulai melakukan persiapan untuk jualan kamis. Menyiapkan dan meracik bahan-bahan. Supaya masakan esok lebih fresh, sore itu kami hanya mengupas dan meracik bahan saja. Kamis dini hari, jam 3.30an, kami bangun dan mulai memasak. Semua bekerja, berpacu dengan waktu. Jam 9 kami menargetkan makanan telah siap jual. Karena kami memasak dalam jumlah besar, Ternyata proses memasak baru rampung jam 9an. Membungkus paket nasi dan tiwul dengan daun pisang butuh waktu sejam. Ada 75 paket nasi tiwul, 40 bungkus tiwul ayu dan 48 potong kue bolu singkong. Setelah bersiap-siap, jam 11 kami berangkat menuju daerah sekitar Bringharjo. Berdelapan, mereka mengusung, menawarkan, menjual produk mereka. Mereka bilang awalnya mereka agak takut, grogi , kawatir tidak laku. Tapi mereka memberanikan diri, target, dagangan harus habis. Satu persatu orang-orang yang berada di sekitar Pasar Beringharjo, Jl Malioboro, depan Benteng Vredeburg, Jogja KM 0 mereka tawari . Proses terus berjalan seiring waktu, satu persatu dagangan terjual. Sekitar jam 2 an mereka sudah merasa capek. Bolu singkong telah habis, paket tiwul tinggal 15 bungkus. Capek mendera. Sepertinya jualan hari ini cukup disini. Jam 3 kami pulang ke basecamp Jati. Setelah istirahat sebentar, anak-anak menghitung uang jualan hari ini. 450rb rupiah. Alhamdulilaahh….Segala capek rasanya hilang sekejap. Malamnya kami evaluasi proses produksi dan pemasaran hari ini, kami juga membicarakan detil persiapan untuk jualan esok hari.

Jumat, 26 Desember, Karena capek, kami bangun jam 04.30an, setelah subuh. Keriuhan proses memasak terjadi lagi. Kami mempersiapkan jualan hari ini. Jumlahnya tidak sebanyak kemarin. Karena kami kira, pengunjung di POJOG tidak seramai di KM 0 Jogja. Kami mempersiapkan 20 porsi paket nasi tiwul, 20 bungkus tiwul ayu (manis) dan 36 potong kue bolu singkong. Jam 2.30an kami berangkat menuju POJOG Letussee. Tak semua anak ikut, karena lokasi agak jauh, dan beberapa orang mabuk jika naik mobil, diputuskan 5 anak yang berangkat, 3 anak yang sering mabuk darat tinggal di rumah. Proses jualan berjalan, pengunjung agak sepi, mungkin masih suasana Natal. Tapi anak-anak senang, karena banyak kenal dengan mbak-mbak dan mas-mas pegiat POJOG Jogja. Kata mereka, mbak-mbak dan mas-mas nya ramah-ramah dan terus menyemangati usaha mereka. Anak-anak juga dipersilahkan oleh mbak-mbak tetangga sesame penjual lain untuk saling mencicipi produk yang mereka jual di POJOG. Sampai waktu pasar mau tutup, jam 19 an, Dagangan masih banyak, tapi mereka bilang gak sedih, karena mereka menemukan teman –teman baru yang baik. Mereka bilang mereka senang berjualan di POJOG letusse. Jam 8an kami sampai rumah. Setelah beres-beres kami evaluasi proses hari ini. Murni menghitung perolehan uang jualan hari ini, total 150rb an. Menurut murni, karnati dan marsini mereka seneng berjualan di pojog. Oki lebih senang berjualan di sekitar Beringharjo, karena disana lebih ramai orang dan uang yang didapat lebih banyak

Sabtu pagi, jadwalnya berjualan di dusun Jati dan sekitarnya. Hari ini hari terakhir berjualan, tapi kami tetap semangat. Setelah rampung memasak, kami membungkus paket tiwul, tiwul ayu dan bolu singkong yang telah masak. Tidak banyak hanya 49 paket nasi tiwul, 20 paket tiwul ayu dan 12 kue bolu singkong. Sejak semalam hujan, pagi ini juga gerimis. Jam 8 packing makanan rampung. Saatnya berjualan. Mereka memilih area dan jalur yang belum mereka kunjungi di hari jualan pertama. Delapan anak itu terus berjalan, menyusuri jalan kampong dan perumahan. Mereka menawarkan, berdialog dan bertransaksi. Satu persatu bungkusan terjual. Setelah sekitar jam 10an, hujan agak deras. Paket nasi masih 15 bungkus. Anak-anak memutuskan mengakhiri jualan, kembali pulang.

Sampai di basecamp mereka ramai-rama menghitung total jumlah uang jualan mulai hari pertama sampai terakhir/keempat. Total omset 924rb. Setelah dikurangi modal mereka mendapat keuntungan bersih 444.500. total keuntungan dibagi 8 anak.


























 
Kami bersama-sama mengevaluasi dari rangkaian kegiatan. Anak-anak mengungkapkan beberapa hasil pembelajaran versi mereka selama melakoni kegiatan greenteenprenenur : 
  • Belajar bekerja sama
  • Merasakan susahnya mencari dan menghasilkan uang
  • Belajar menjual dan lebih ramah kepada pembeli
  • Belajar mandiri, disiplin dan bekerja sama
  • Berusaha untuk lebih kreatif dan inofatif, agar usaha tiwul ini tetap ada dan bertahan

0 comments:

Post a Comment