Tuesday, February 10, 2015

Kurikulum Pembelajaran: dari Kita untuk Kita

Menyusun materi belajar
 Di Sekolah Pagesangan, peserta belajar(murid) berhak menentukan sendiri materi apa yang akan dan ingin dipelajari. Bulan Agustus-September 2014,awal semester ini, kami mengidentifikasi materi-materi dan hal-hal yang kami anggap penting untuk dipelajari.

Kami putuskan untuk belajar hal-hal yang tidak jauh dari kehidupan kami sehari-hari. Kami pikir, penting memahami hal-hal yang terdekat dengan diri kita, agar kita bisa menjadi bagian solusi dari masalah hidup disekitar.

Bersama-sama, kami mengidentifikasi tema-tema pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. hal dan materi yang diusulkan, disaring dengan beberapa tambahan kriteria, yaitu, proses dan materi belajar seharusnya yang :
  • Berbiaya rendah/tidak pakai biaya,
  • Proses belajarnya berguna bagi kami dan masyarakat,
  • Pengetahuan/ilmu tersebut bisa diterapkan, dan memungkinkan dikembangkan untuk usaha sebagai upaya kemandirian kami.
Kami melakukan diskusi. Tiap orang bebas berbicara. Murni mengusulkan membuat dan produksi kompos. Marsini dan Oki ingin serius mengembangkan gaplek dan tiwul sebagai bagian usaha SP. Arni dan karnati mengusulkan agar kami memiliki kebun percobaan sendir, belajar menjadi petani sebenarnya dan mengelola kebun secara organik. Sebagian besar anak-anak juga mengusulkan rekreasi dan outbound tetap diagendakan secara berkala. Oki, juga mengusulkan melanjutkan acara-acara semacam masterchef atau lomba-lomba seperti yang dulu biasa kami lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Semua usulan kami tulis di plano dan diskusikan. Kami buat juga kolom di plano itu dan mulai mengisi dengan terlebih dahulu mendiskusikan pembagian tugas penanggung jawab tiap kegiatan dan jadwal pelaksanaannya.

Hasil identifikasi materi pembelajaran semester (Agustus2014-Maret 2015) adalah :
  1. Mengolah hasil panen kebun. Belajar meningkatkan nilai tambah dari hasil panen, dengan mengolahnya menjadi produk berdaya jual. contoh Tiwul , Mengolah singkong menjadi tiwul dan dipasarkan di jogja dan kota-kota lain (juga dipasarkan secara online), merupakan proses belajar untuk meningkatkan nilai tambah dari panen singkong. Kami menekankan pentingnya mengembangkan kreatifitas, inisiatif dan keseriusan mengolah aneka hasil panen yang lain seperti kacang tanah, jahe, kedelai,serai dll
  2. Membuat dan mengelola kebun, kebun ini merupakan kebun produksi dan pembelajaran, terutama tentang permakultur
  3.  Membuat kompos dan Membuat MOL (mikroorganisme local)
  4.  Lomba kreativitas, meruapakan bentuk edutainment, cara kami bersenang-senang dalam belajar, seperti lomba memasak “masterchef’, lomba kreatifitas membuat kreasi dari bahan sekitar, pentas seni dll
  5. Outbound, nature game, permainan tradisional,
  6. Berhitung
  7. Bazar pasar murah
Ternyata tema-tema yang kami identifikasi dan akan pelajari tidak jauh dari kehidupan bertani . Jika ditelisik, kami memang sangat dekat dengan kehidupan bertani. Orangtua kami adalah petani. Kami makan dan hidup dari hasil proses-proses bertani. Meski tanah kami penuh karang dan berbatu, namun nenek, kakek moyang dan orang tua kami tetap bertani. Bertani adalah jalan sekaligus kebutuhan untuk hidup, agar bertahan di tanah ini. Hasil-hal kerja tani lah yang menghidupi kami. Hasil-hasil bertani dipakai untuk makan sehari-hari, dan hidup.

Proses identifikasi materi belajar diatas kami lakukan dalam beberapa rangkaian pertemuan. Perlu beberapa kali bertemu untuk mengidentifikasi, merumuskan dan menyepakati materi pembelajaran diatas. Kami juga melakukan pembagian tugas demi lancarnya pelaksanaan proses belajar. Misalnya disepakati kader/koordinator untuk mengorganisir proses kegiatan. Koordinator kebun adalah muni. Arni mengkoordinir produksi kompos. Marsini mengkoordinir produksi dan penjualan tiwul. Oki mengkoordinir aneka lomba kreatifitas.

0 comments:

Post a Comment