Kebun Kepuket
By
Unknown
•
7:48 AM
•
1 Comments
 |
| kebun Kepuket |
Minggu,8 Febuari 2015, jam 6 pagi aku
sudah bermotor menuju Wintaos, Girimulya, Panggang. Udara dingin menyergap.
Mendung menggelanyut. Berharap tak hujan. Jam 07.05 wib aku sampai markas SP
(rumah marsini). Beberapa saat kemudian oki dan putri datang.
Disusul murni, wulan, heriyanti, dengan membawa bibit ganyong (di Wintaos di
sebut mondro) dan bibit garut. Cukup banyak bibit yang dibawa murni. Bibit
garut yang dibawa murni rata-rata sudah tumbuh daunnya 2-3 helai. Cukup mudah
dapat bibit garut di Wintaos, garut banyak ditanam disini sebagai tanaman
disela-sela Pohon Jati. Sementara bibit ganyong yang dibawa murni sebagian
besar berupa umbi. Murni bilang, cukup susah memperoleh bibit ganyong. Kata
ayah murni, setelah direbus Mondro berasa manis, tapi entah kenapa sekarang
gak banyak yang mau menanam.
Beberapa saat kemudian Arni datang, membawa bibit garut dan sedikit mondro.
Arni bilang sempet berebut bibit mondro dengan mamaknya. Mamak Arni juga ingin
menanam mondro. Katanya saat ini agak susah mencari bibit mondro di Wintaos
karena gak banyak yang mau menanam. Arni juga membawa bibit garut. Arni
memperoleh bibit garut dari mbah Jogo (tetua disini). Mbah Jogo banyak menanam
garut. Di saat musim kemarau mbah Jogo membuat tepung pati garut. Dan tepung
pati dijualnya di warung dengan harga 12.500/kg.
Kami mengumpulkan semua bibit di pojok rumah. Kami berkumpul dulu untuk diskusi
tentang pekerjaan kami hari ini. Hari ini kami menargetkan menyiapkan lahan
“Pinjaman” kami di KEPUKET untuk menanam, umbi-umbian (ganyong dan garut) ;
Sayuran pare, kacang panjang, bayem ; Tanaman obat berupa sirih merah dan jahe
; serta tanaman buah berupa markisa, dan pisang.
Kami akan mengatur sedemikian rupa supaya semua bibit bisa tumbuh baik. Untuk
markisa, pare dan sirih merah, karena mereka tanaman merambat, kami meminta bantuan
ayah marsini dan ayah murni untuk membuatkan bedengan dari bamboo sebagai
‘rumah’ dan perambatannya. Kami sudah merancang bentuk bedengannya dan
menjelaskan maksud kami pada ayah marsini, dia menyanggupi untuk membantu kami
membuat bedengan minggu depan. Hari ini kami menyepakati untuk menyelesaikan
macul dan merabuk (menyiapkan lahan). Jika sudah selesai macul dan merabuk kami
akan menanam bibit-bibit yang telah kami bawa.
 |
| membuat lubang tanaman |
 |
| Jagungku hijau subur semoga nasibku makmur |
 |
| cangkul mencangkul biar gembur |
Jam 7.30an kami segera mengawali pekerjaan, membuka terpal penutup kompos.
Membongkar kompos yang telah jadi. Kami gotong royong mencangkuli kompos,
memasukkan ke dalam karung sak, supaya mudah diangkut ke lahan kepuket. Kompos
diatas terpal berpindah dalam 4 karung sak besar , tiap sak berisi sekitar
1kwintal, ditambah 4 sak kecil ( isi 25kg). perkiraan panen kompos hari itu
sekitar ½ ton kompos. Kami berembug sebentar untuk teknis pengangkutan 6 karung
“harta” kami ini. Mengingat jarak rumah marsini (markas) ke lahan kepuket cukup
jauh, sekitar 1km. Kabar baiknya jalan menuju kepuket bisa dilalui pakai motor,
karena jalan telah disemen. Luarbiasa!
 |
| semoga cepat tumbuh dan berbuah |
Kami senang karena memungkinkan pengangkutan dilakukan dengan motor. Lahan
kepuket beda dengan lahan nDelisen (lahan/kebun kami yang lain). Jika kebun
nDelisen, posisinya diatas bukit dengan kondisi jalanan menanjak, licin dan
berbatu, mustahil dilalui motor. menuju NDelisen kita harus berjalan penuh
kehati-hati an supaya tidak tergelincir. Sementara kebun kepuket, posisi lahan
berada di tepi jalan, dan sepanjang jalan telah ada konblok (semen).
 |
| bersemangat menanam |
Kami bersepakat, membentuk supir pengangkut yang terdiiri dari Aku, Murni,
Hanan, dengan menggunakan motor masing-masing, untuk mengangkut karung-karung
kompos tersebut. Tiap motor,1 orang nyetir + 1 orang yang dibonceng memegangi
karung kompos yang diangkut. Murni membonceng arni, dengan karung kompos di
tengah. Saya membonceng karung kompos yang dipegangi wulan. Sementara hanan
tandem dengan oki. Kami bolak-balik dari markas (rumah marsini) ke kepuket
hampir 3x PP, selain kompos kami juga harus mengangkut benih jahe, ganyong dan
garut juga beberapa peralatan seperti cangkul dan gathul. Beberapa anak lain
menunggu dan mengangkut kompos dari rumah marsini (markas) menuju jalan motor,
memudahkan pengangkutan oleh motor.
Komposnya berwarna hitam dan agak lembab, di atas motor kami harus berdempetan
dan memeluk karung kompos. Tak terhindarkan, semua baju kami yang menempel dg
karung kompos jadi hitam kotor dan agak basah. Sekitar jam 9.30an acara angkut
mengangkut kompos dan benih rampung. Semua orang terduduk di kebun kelelelahan.
Aku senang, kami telah berhasil mengangkut ½ ton kompos ke kebun!
Sambil minum, dan ngaso sebentar, kami memandang lahan Kepuket. Kuperkirakan
lahan ini luasnya sekitar 300m2 ini. Tidak seperti di nDelisen yang lahannnya
naik turun dan berbatu karena diatas bukit karang. Lahan Kepuket tanahnya rata,
tak naik turun, sepanjang lahan jarang ditemui karang, lenah sebutannya. Tanah
yang dipinjamkan pada kami kini memang luarbiasa, selain lenah, di tepi-tepi
lahan telah ada beberapa pohon naungan seperti Melinjo, beberapa Pisang, Jati
dan Akasia.
Di tengah lahan ini masih ada beberapa larik tanaman jagung milik Pak Yanto
(ayah marsini), pemilik lahan kepuket. Menurut Pak Yanto, sementara ini, kami
boleh menanami disela-sela jagung tanaman milik pak yanto. Pak yanto meminta
kami untuk tidak mencabuti tanaman jagung dulu, minggu depan pak yanto akan
mencabuti sendiri jagungnya.
 |
| tanaman ganyong |
Kami membagi tugas, aku dan anak-anak besar (murni, arni, oki dan hanan)
bertugas mencangkuli semua bagian lahan yang tak ada jagungnya. Semua kami
cangkuli untuk persiapan lahan bagi benih yang ditanam. Selesai mencangkul,
kami mulai membuat lajur-lajur untuk menanam bibit. Sementara kami
mempersiapkan lahan, wulan, putri dan heryanti yang badannya masih kecil,
sedikit demi sedikit membantu mengusung kompos dari tepi ke tengah-tengah
lahan.
Dari lajur-lajur yang telah dibuat dan dicangkuli, kami membuat lubang sedalam
15 cm dan kami isi dengan kompos. Berucap bismilah, Bibit kami masukan dan kami
tutup dengan campuran kompos dan tanah. Semoga bibit tumbuh subur dan berumbi
banyak. Disaat kami bekerja, hujan turun, awalnya rintik-rintik. Aku menanyakan
pada anak-anak, mau terus bekerja atau istirahat/berteduh dulu? Anak-anak
menjawab lanjuttt….kami tetap bekerja dibawah rintik guyuran hujan.
Hujan ini lah yang kami harapkan. Hujan menyirami tanaman yang kami tanam.
Berkah Yang Kuasa. Kami basah kuyup tapi gembira. Sambil bekerja kami masih
saling cerita, dan tertawa. HandPhone oki disetel mp3. Oki mencangkul sambil
tak habis-habisnya menyetel lagu-lagu kesenangannya, mulai dangdut sampai
campur sari.
Bibit masih banyak yang belum ditanam. Lajur tepi, dibawah naungan pohon jati,
pisang, dan pohon melinjo kami Tanami garut. Konon garut suka berada di keteduhan.
Lajur tengah sebanyak 2 lajur kami Tanami ganyong. Lajur disamping ganyong kami
tanami jahe yang kubawa dari jogja
Benih ganyong tak banyak, belum ada ¼ lajur ganyong telah habis. Garut lumayan
banyak, hampir memenihi 2 lajur tepi. Kompos kami berikan banyak-banyak sebagai
bekal nutrisi bibit yang ditanam. Setelah bibit-bibit yang kami bawa habis,
kami berhenti menanam.
 |
| Membuka terpal kompos |
 |
| Mewadahi kompos |
|
|
|
 |
| mengaduk dan mengarungi |
Rupanya kompos masih bersisa banyak, masih ada 3 karung besar kompos. Kami
perkirakan cukup untuk menanam ganyong dan garut minggu depan, memenuhi
lajur-lajur yang telah kami persiapkan. Karena bibit ganyong agak susah didapat
di Wintaos, aku menyanggupi untuk mencarikan bibit ganyong dari beberapa
temanku di Kulon Progo. Dan akan membawanya minggu depan. Sementara murni dan
arni bersepakat mencari bibit garut lagi untuk ditanam minggu depan. Saat usai
bekerja hujan juga telah berhenti. Kami membereskan peralatan, badan kami
basah, baju penuh tanah dan kompos. Menuju jalan pulang kami masih tertawa,
bercerita banyak hal.
Berita seputar SP kalau bisa diupdate juga di blog ini.
ReplyDelete