Tuesday, February 10, 2015

Kebun Kepuket

kebun Kepuket

Minggu,8 Febuari 2015, jam 6 pagi aku sudah bermotor menuju Wintaos, Girimulya, Panggang. Udara dingin menyergap. Mendung menggelanyut. Berharap tak hujan. Jam 07.05 wib aku sampai markas SP (rumah marsini). Beberapa saat kemudian oki dan putri datang.

Disusul murni, wulan, heriyanti, dengan membawa bibit ganyong (di Wintaos di sebut mondro) dan bibit garut. Cukup banyak bibit yang dibawa murni. Bibit garut yang dibawa murni rata-rata sudah tumbuh daunnya 2-3 helai. Cukup mudah dapat bibit garut di Wintaos, garut banyak ditanam disini sebagai tanaman disela-sela Pohon Jati. Sementara bibit ganyong yang dibawa murni sebagian besar berupa umbi. Murni bilang, cukup susah memperoleh bibit ganyong. Kata ayah murni, setelah direbus Mondro berasa manis, tapi entah kenapa sekarang gak banyak yang mau menanam.

Beberapa saat kemudian Arni datang, membawa bibit garut dan sedikit mondro. Arni bilang sempet berebut bibit mondro dengan mamaknya. Mamak Arni juga ingin menanam mondro. Katanya saat ini agak susah mencari bibit mondro di Wintaos karena gak banyak yang mau menanam. Arni juga membawa bibit garut. Arni memperoleh bibit garut dari mbah Jogo (tetua disini). Mbah Jogo banyak menanam garut. Di saat musim kemarau mbah Jogo membuat tepung pati garut. Dan tepung pati dijualnya di warung dengan harga 12.500/kg.

Kami mengumpulkan semua bibit di pojok rumah. Kami berkumpul dulu untuk diskusi tentang pekerjaan kami hari ini. Hari ini kami menargetkan menyiapkan lahan “Pinjaman” kami di KEPUKET untuk menanam, umbi-umbian (ganyong dan garut) ; Sayuran pare, kacang panjang, bayem ; Tanaman obat berupa sirih merah dan jahe ; serta tanaman buah berupa markisa, dan pisang.

Kami akan mengatur sedemikian rupa supaya semua bibit bisa tumbuh baik. Untuk markisa, pare dan sirih merah, karena mereka tanaman merambat, kami meminta bantuan ayah marsini dan ayah murni untuk membuatkan bedengan dari bamboo sebagai ‘rumah’ dan perambatannya. Kami sudah merancang bentuk bedengannya dan menjelaskan maksud kami pada ayah marsini, dia menyanggupi untuk membantu kami membuat bedengan minggu depan. Hari ini kami menyepakati untuk menyelesaikan macul dan merabuk (menyiapkan lahan). Jika sudah selesai macul dan merabuk kami akan menanam bibit-bibit yang telah kami bawa.

membuat lubang tanaman
Jagungku hijau subur semoga nasibku makmur
cangkul mencangkul biar gembur

Jam 7.30an kami segera mengawali pekerjaan, membuka terpal penutup kompos. Membongkar kompos yang telah jadi. Kami gotong royong mencangkuli kompos, memasukkan ke dalam karung sak, supaya mudah diangkut ke lahan kepuket. Kompos diatas terpal berpindah dalam 4 karung sak besar , tiap sak berisi sekitar 1kwintal, ditambah 4 sak kecil ( isi 25kg). perkiraan panen kompos hari itu sekitar ½ ton kompos. Kami berembug sebentar untuk teknis pengangkutan 6 karung “harta” kami ini. Mengingat jarak rumah marsini (markas) ke lahan kepuket cukup jauh, sekitar 1km. Kabar baiknya jalan menuju kepuket bisa dilalui pakai motor, karena jalan telah disemen. Luarbiasa!

semoga cepat tumbuh dan berbuah
Kami senang karena memungkinkan pengangkutan dilakukan dengan motor. Lahan kepuket beda dengan lahan nDelisen (lahan/kebun kami yang lain). Jika kebun nDelisen, posisinya diatas bukit dengan kondisi jalanan menanjak, licin dan berbatu, mustahil dilalui motor. menuju NDelisen kita harus berjalan penuh kehati-hati an supaya tidak tergelincir. Sementara kebun kepuket, posisi lahan berada di tepi jalan, dan sepanjang jalan telah ada konblok (semen).


bersemangat menanam
Kami bersepakat, membentuk supir pengangkut yang terdiiri dari Aku, Murni, Hanan, dengan menggunakan motor masing-masing, untuk mengangkut karung-karung kompos tersebut. Tiap motor,1 orang nyetir + 1 orang yang dibonceng memegangi karung kompos yang diangkut. Murni membonceng arni, dengan karung kompos di tengah. Saya membonceng karung kompos yang dipegangi wulan. Sementara hanan tandem dengan oki. Kami bolak-balik dari markas (rumah marsini) ke kepuket hampir 3x PP, selain kompos kami juga harus mengangkut benih jahe, ganyong dan garut juga beberapa peralatan seperti cangkul dan gathul. Beberapa anak lain menunggu dan mengangkut kompos dari rumah marsini (markas) menuju jalan motor, memudahkan pengangkutan oleh motor.

Komposnya berwarna hitam dan agak lembab, di atas motor kami harus berdempetan dan memeluk karung kompos. Tak terhindarkan, semua baju kami yang menempel dg karung kompos jadi hitam kotor dan agak basah. Sekitar jam 9.30an acara angkut mengangkut kompos dan benih rampung. Semua orang terduduk di kebun kelelelahan. Aku senang, kami telah berhasil mengangkut ½ ton kompos ke kebun!

Sambil minum, dan ngaso sebentar, kami memandang lahan Kepuket. Kuperkirakan lahan ini luasnya sekitar 300m2 ini. Tidak seperti di nDelisen yang lahannnya naik turun dan berbatu karena diatas bukit karang. Lahan Kepuket tanahnya rata, tak naik turun, sepanjang lahan jarang ditemui karang, lenah sebutannya. Tanah yang dipinjamkan pada kami kini memang luarbiasa, selain lenah, di tepi-tepi lahan telah ada beberapa pohon naungan seperti Melinjo, beberapa Pisang, Jati dan Akasia.
Di tengah lahan ini masih ada beberapa larik tanaman jagung milik Pak Yanto (ayah marsini), pemilik lahan kepuket. Menurut Pak Yanto, sementara ini, kami boleh menanami disela-sela jagung tanaman milik pak yanto. Pak yanto meminta kami untuk tidak mencabuti tanaman jagung dulu, minggu depan pak yanto akan mencabuti sendiri jagungnya.


tanaman ganyong
Kami membagi tugas, aku dan anak-anak besar (murni, arni, oki dan hanan) bertugas mencangkuli semua bagian lahan yang tak ada jagungnya. Semua kami cangkuli untuk persiapan lahan bagi benih yang ditanam. Selesai mencangkul, kami mulai membuat lajur-lajur untuk menanam bibit. Sementara kami mempersiapkan lahan, wulan, putri dan heryanti yang badannya masih kecil, sedikit demi sedikit membantu mengusung kompos dari tepi ke tengah-tengah lahan.
Dari lajur-lajur yang telah dibuat dan dicangkuli, kami membuat lubang sedalam 15 cm dan kami isi dengan kompos. Berucap bismilah, Bibit kami masukan dan kami tutup dengan campuran kompos dan tanah. Semoga bibit tumbuh subur dan berumbi banyak. Disaat kami bekerja, hujan turun, awalnya rintik-rintik. Aku menanyakan pada anak-anak, mau terus bekerja atau istirahat/berteduh dulu? Anak-anak menjawab lanjuttt….kami tetap bekerja dibawah rintik guyuran hujan.

Hujan ini lah yang kami harapkan. Hujan menyirami tanaman yang kami tanam. Berkah Yang Kuasa. Kami basah kuyup tapi gembira. Sambil bekerja kami masih saling cerita, dan tertawa. HandPhone oki disetel mp3. Oki mencangkul sambil tak habis-habisnya menyetel lagu-lagu kesenangannya, mulai dangdut sampai campur sari.

Bibit masih banyak yang belum ditanam. Lajur tepi, dibawah naungan pohon jati, pisang, dan pohon melinjo kami Tanami garut. Konon garut suka berada di keteduhan. Lajur tengah sebanyak 2 lajur kami Tanami ganyong. Lajur disamping ganyong kami tanami jahe yang kubawa dari jogja

Benih ganyong tak banyak, belum ada ¼ lajur ganyong telah habis. Garut lumayan banyak, hampir memenihi 2 lajur tepi. Kompos kami berikan banyak-banyak sebagai bekal nutrisi bibit yang ditanam. Setelah bibit-bibit yang kami bawa habis, kami berhenti menanam.

Membuka terpal kompos

Mewadahi kompos


mengaduk dan mengarungi
Rupanya kompos masih bersisa banyak, masih ada 3 karung besar kompos. Kami perkirakan cukup untuk menanam ganyong dan garut minggu depan, memenuhi lajur-lajur yang telah kami persiapkan. Karena bibit ganyong agak susah didapat di Wintaos, aku menyanggupi untuk mencarikan bibit ganyong dari beberapa temanku di Kulon Progo. Dan akan membawanya minggu depan. Sementara murni dan arni bersepakat mencari bibit garut lagi untuk ditanam minggu depan. Saat usai bekerja hujan juga telah berhenti. Kami membereskan peralatan, badan kami basah, baju penuh tanah dan kompos. Menuju jalan pulang kami masih tertawa, bercerita banyak hal.

1 comment: